| |
Karangan yang lain |
 |
|
|
 |
|
|
|
|
 |
|
|
|
|
|
|
Eka Kurniawan
Eka Kurniawan lahir di sebuah desa, dua jam dari Tasikmalaya, 28 November 1975 dan tinggal di sana dengan keempat kakek-neneknya. Desa itulah yang menjadi pijakan awal O Anjing. Beberapa bahan lainnya diperoleh dari tempat lain: ia mengikuti orangtuanya tinggal di perkebunan karet di Cilacap, sebelum mereka pindah lagi ke kota kecil Pangandaran.
Di kota itulah, tepatnya ketika masuk SMPN 1 Pangandaran, keinginan untuk menulis pertama kali muncul. Barangkali didorong oleh perkenalannya dengan buku bacaan yang disewakan oleh taman bacaan yang berkeliling dengan sepeda. Puisi pertamanya muncul di majalah anak-anak Sahabat. Ia juga menulis cerpen-cerpen lucu untuk dibaca teman-temannya. Sekolahnya dilanjutkan ke SMAN 1 Tasikmalaya dan tinggal bersama bibinya. Di sana ia lebih banyak di perpustakaan sekolah, menulis di rumah (ayahnya menghadiahinya mesin tik portable karena berhasil meraih lima besar lulusan terbaik) hingga kemudian ia merasa bosan. Ia memulai perjalanan selama berminggu-minggu melintasi kota-kota hingga Jakarta, kemudian berbelok ke timur melewati Cirebon, Tegal, dan Purwokerto. Ketika ia kembali, sekolah telah mengeluarkannya. Ia kembali ke Pangandaran dan masuk SMA PGRI, satu-satunya sekolah yang mau menerimanya tanpa harus mengulang kelas.
Selama empat semester ia berhasil mempertahankan ranking pertama tanpa kehilangan kegemarannya untuk membolos; ia suka menjelajahi daerah-daerah sekitar. Tempat favoritnya adalah rawa-rawa Segara Anakan (tempat Nusa Kambangan berada), pelabuhan Cilacap, gua-gua peninggalan Jepang dan mulai mencoba menulis cerita-cerita tentang itu semua. Seusai sekolah ia melanjutkan ke Fakultas Filsafat di Universitas Gadjah Mada, tempat ia berharap akan bertemu banyak orang yang bisa mengajarinya menulis.
Lebih lengkap di: www.geocities.com/ekakurniawan
|
|
|
 |
|
Sebagaimana kebanyakan mahasiswa yang berharap bisa menulis, ia bergabung dengan pers mahasiswa Pijar dan Balairung. Dua tahun kemudian merasa bosan dan belajar desain grafis serta mencoba membuat komik, main musik, menjadi tukang sablon hingga ia membaca Lapar untuk pertama kali. Manuskrip O Anjing selesai tahun 2001, mencoba menumpahkan semua hasrat sastranya: ada politik, sejarah, roman, folklore, filsafat, bahkan cerita silat. Novel setebal 140.000 kata itu dibawanya ke Jakarta, ditawarkan ke beberapa penerbit. Semuanya menolak. Berita baik datang dari sebuah penerbit kecil di Magelang, tapi tak bisa menjanjikan kapan bisa dicetak. Sebuah penerbit kecil lain hanya mau mencetaknya 200 eksemplar. Sedikit putus asa, di akhir tahun, Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY) menawarinya beasiswa menulis novel selama enam bulan. Ia kembali ke Yogya, kembali ke manuskrip O Anjing. Ia menulis ulang novel tersebut selama beberapa bulan, mengganti judulnya menjadi Cantik itu Luka, dan dengan sponsor AKY, novel tersebut akhirnya diterbitkan oleh Penerbit Jendela, Desember 2002. Novel itu segera memperoleh sambutan. Beberapa kritikus mengecam kecampuradukannya, beberapa memujinya. Edisi pertama novel itu terjual habis di pasaran.
Pertengahan tahun 2003, ia pindah ke Jakarta. Di bulan-bulan pertama, ia lebih banyak menghabiskan waktu di meja-meja foodcourt Sarinah untuk menulis manuskrip novel Lelaki Harimau. "Tempat itu menyenangkan, ber-AC, bermusik, dan tak ada yang mengenaliku," katanya. Novel itu diterbitkan Mei 2004, bersamaan dengan edisi cetak ulang Cantik itu Luka oleh Gramedia Pustaka Utama. Kini ia tengah mempersiapkan kumpulan cerita pendek yang ditulisnya selama lima tahun terakhir.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pengarang
Lain |
 |
|
| |
 |
|
|
|