in

Review Buku Il Principe (Sang Pangeran) Karya Niccolo Machiavelli

Il Principe (Sang Pangeran) adalah risalah politik yang ditulis oleh Niccolò Machiavelli pada abad ke-16. Berbeda dari karya-karya sejenis, buku ini menyajikan panduan realistis bagi para pemimpin baru dengan pendekatan yang mengejutkan—Machiavelli menegaskan bahwa tindakan tidak bermoral dapat dibenarkan jika berujung pada kejayaan politik.

Il Principe (Sang Pangeran)

Berdasarkan surat-surat Machiavelli, versi awal buku ini ditulis sekitar tahun 1513 dengan judul Latin De Principatibus (Tentang Kerajaan). Namun, buku ini baru diterbitkan secara resmi pada tahun 1532, lima tahun setelah kematian sang penulis, dengan izin dari Paus Medici Clement VII. Sejak pertama kali beredar dalam bentuk manuskrip, Sang Pangeran langsung menjadi bahan perdebatan panas.

Buku ini kerap disebut sebagai salah satu tonggak awal filsafat politik modern, karena lebih menitikberatkan pada efektivitas praktis daripada idealisme abstrak. Pemikiran Machiavelli bertentangan dengan doktrin Katolik dan skolastik yang dominan pada masa itu, terutama dalam kaitannya dengan etika dan politik.

Bagi kamu yang penasaran dengan karya fenomenal ini, kini Sang Pangeran telah tersedia dalam versi terbaru berbahasa Indonesia, diterbitkan oleh Cakrawala Sketsa Mandiri pada 23 Agustus 2024 dengan ketebalan 240 halaman. Sebelum kita menyelami isi buku ini lebih dalam, yuk kenalan dulu dengan sang penulis, Niccolò Machiavelli!

Profil Niccolo Machiavelli – Penulis Buku Il Principe (Sang Pangeran)

Niccolò di Bernardo dei Machiavelli (3 Mei 1469 – 21 Juni 1527) adalah seorang diplomat, penulis, filsuf, dan sejarawan asal Firenze yang hidup pada masa Renaisans Italia. Ia dikenal luas berkat karyanya yang kontroversial, Sang Pangeran (Il Principe), yang ditulis sekitar tahun 1513 tetapi baru diterbitkan pada 1532, lima tahun setelah ia meninggal dunia. Machiavelli sering disebut sebagai bapak filsafat politik dan ilmu politik modern karena pemikirannya yang revolusioner.

Selama bertahun-tahun, ia menjabat sebagai pejabat senior di Republik Firenze dengan tanggung jawab dalam bidang diplomasi dan militer. Selain menulis karya politik, ia juga menciptakan komedi, lagu-lagu karnaval, serta puisi. Korespondensinya menjadi sumber penting bagi para sejarawan dalam memahami dinamika politik Italia saat itu. Dari tahun 1498 hingga 1512, ia bekerja sebagai sekretaris di kantor kanselir kedua Republik Firenze, tepat sebelum keluarga Medici kembali berkuasa dan menggulingkan pemerintahan republik.

Il Principe (Sang Pangeran)

Setelah wafatnya, nama Machiavelli kerap dikaitkan dengan praktik politik yang tidak bermoral, sesuai dengan strategi yang ia paparkan dalam Sang Pangeran. Berdasarkan pengalamannya dan telaah sejarah, ia menyimpulkan bahwa dunia politik sarat dengan tipu muslihat, pengkhianatan, serta kejahatan. Ia berpendapat bahwa seorang pemimpin harus siap melakukan tindakan keras, termasuk kejahatan, demi stabilitas dan keberlangsungan kekuasaan. Bahkan, ia menegaskan bahwa seorang reformis negara yang sukses tidak boleh ragu untuk menyingkirkan lawan-lawannya jika hal tersebut menjadi hambatan bagi perubahan.

Sejak diterbitkan, Sang Pangeran terus memicu perdebatan. Sebagian orang melihatnya sebagai gambaran realistis tentang politik, sementara yang lain menganggapnya sebagai panduan bagi calon tiran dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Hingga kini, pemikirannya masih menuai kontroversi, dengan beberapa cendekiawan seperti Leo Strauss yang tetap berpegang pada pandangan bahwa Machiavelli adalah “guru kejahatan.”

Sinopsis Buku Il Principe (Sang Pangeran)

Il Principe (Sang Pangeran)

Sudah menjadi hal yang lumrah bagi mereka yang ingin merebut perhatian dan memenangkan hati seorang pangeran untuk mempersembahkan hadiah-hadiah terbaik yang mereka miliki. Biasanya, hadiah tersebut berupa benda-benda berharga yang sesuai dengan kebesaran sang pangeran—seperti kuda-kuda pilihan, persenjataan megah, baju perang berhias emas, permata, serta ornamen indah lainnya yang mencerminkan kemuliaannya.

Namun, dalam upaya saya untuk menunjukkan pengabdian dan kesetiaan yang paling tulus kepada Yang Mulia, saya tidak menemukan harta benda apa pun yang sebanding dengan sesuatu yang paling saya junjung tinggi—yakni, pengetahuan yang saya peroleh dari pengalaman panjang dan studi mendalam mengenai tokoh-tokoh besar serta peristiwa-peristiwa bersejarah.

Dengan kerja keras dan ketekunan, saya telah menelaah tindakan-tindakan para pemimpin besar di masa lalu. Kini, saya mempersembahkan hasil pemikiran tersebut kepada Yang Mulia dalam bentuk sebuah risalah singkat. Meskipun saya sadar bahwa karya ini mungkin tampak sederhana dan tidak seberapa dibandingkan dengan hadiah-hadiah mewah lainnya, saya yakin kemurahan hati Yang Mulia akan menerimanya dengan bijaksana. Sebab, tidak ada hadiah yang lebih berharga dari pengetahuan yang memungkinkan seorang pemimpin memahami dalam waktu singkat apa yang saya pelajari dengan penuh perjuangan selama bertahun-tahun, bahkan dengan risiko menghadapi bahaya.

Saya tidak berniat memuji karya ini dengan kata-kata berbunga-bunga seperti yang dilakukan banyak penulis lainnya. Saya juga tidak mengharapkan penghargaan apa pun, kecuali jika ide-ide yang terkandung di dalamnya memang layak mendapatkan pengakuan. Biarlah nilai sejati dari tulisan ini berbicara dengan sendirinya.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Il Principe (Sang Pangeran)

Il Principe (Sang Pangeran)

Pros & Cons

Pros
  • Terobosan baru dan buku berwawasan pada masanya.
  • Peletak dasar Realpolitik.
  • Gaya penulisan yang menarik.
  • Digambarkan secara nyata dan praktis.
  • Penuh dengan kutipan-kutipan kuat yang berkesan.
  • Bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
  • Bahasa yang lugas dan jelas.
Cons
  • Kurang relevan dengan kehidupan modern.
  • Terdapat pernyataan yang mendukung konsep patriaki. 

Kelebihan Buku Il Principe (Sang Pangeran)

Il Principe (Sang Pangeran)

Sebagai salah satu karya politik paling berpengaruh sepanjang sejarah, Il Principe (Sang Pangeran) karya Niccolò Machiavelli menghadirkan terobosan baru yang luar biasa untuk masanya. Banyak gagasannya kini telah menjadi bagian dari pemikiran politik modern, tetapi pada saat pertama kali diperkenalkan, ide-ide ini begitu revolusioner dan bahkan dianggap kontroversial.

Machiavelli tidak hanya membahas bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan, tetapi juga menggambarkan realitas politik yang terjadi di dunia nyata. Ia dengan tajam membedakan antara apa yang dikatakan penguasa dan apa yang sebenarnya mereka lakukan, menyoroti bagaimana efektivitas pemerintahan sering kali bergantung pada pemahaman yang pragmatis terhadap kekuasaan.

Sebagai peletak dasar Realpolitik, Machiavelli mengungkapkan bahwa politik bukanlah sekadar soal idealisme atau moralitas, melainkan seni bertahan dan mempertahankan kekuasaan. Ia tidak menciptakan konsep amoralitas politik, tetapi mengakuinya sebagai bagian yang tak terhindarkan dalam pemerintahan yang efektif. Hal inilah yang menjadikan Sang Pangeran tetap relevan hingga saat ini, terutama bagi mereka yang ingin memahami bagaimana kekuasaan benar-benar beroperasi di balik layar.

Tidak hanya menawarkan wawasan politik yang mendalam saja, buku ini juga disajikan dengan gaya penulisan yang menarik. Machiavelli menggunakan banyak kisah sejarah sebagai contoh nyata, sehingga pembaca tidak hanya mendapatkan teori saja, tetapi juga ilustrasi konkret tentang bagaimana strategi politik diterapkan di berbagai peradaban. Deskripsi peristiwa-peristiwa bersejarahnya begitu berwarna dan hidup, membuat buku ini tetap menarik meskipun membahas tema yang berat.

Selain itu, Il Principe (Sang Pangeran) dipenuhi dengan kutipan-kutipan tajam dan berkesan yang hingga kini masih sering dikutip dalam diskusi politik, kepemimpinan, dan strategi pemerintahan. Setiap pemikirannya mencerminkan pengamatan mendalam tentang sifat manusia, kekuasaan, dan bagaimana keduanya saling berkaitan dalam dunia politik. Kelebihan lainnya terletak pada cara penyampaian Machiavelli yang lugas dan tanpa basa-basi. Ia tidak terjebak dalam retorika yang bertele-tele, melainkan menyampaikan pemikirannya secara langsung dan jelas, sehingga membuat isi buku ini mudah untuk dimengerti oleh berbagai kalangan.

Kekurangan Buku Il Principe (Sang Pangeran)

Il Principe (Sang Pangeran)

Meskipun Il Principe (Sang Pangeran) merupakan karya politik yang revolusioner pada masanya, tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa gagasannya kini terasa kurang relevan dengan realitas modern. Ditulis pada abad ke-16, beberapa konsep yang diusung Machiavelli sangat erat kaitannya dengan kondisi politik dan sosial zamannya, yang berbeda jauh dari sistem pemerintahan dan norma-norma masyarakat saat ini. Bagi sebagian pembaca, pendekatan yang terlalu menekankan pada pragmatisme tanpa mempertimbangkan aspek moralitas dapat terasa usang dan kurang sesuai dengan dinamika kepemimpinan kontemporer yang lebih demokratis dan transparan pada era sekarang ini.

Selain itu, Sang Pangeran juga memuat pernyataan-pernyataan yang dianggap mendukung konsep patriarki, seperti perumpamaan bahwa keberuntungan adalah seorang wanita yang harus dikendalikan dengan kekerasan. Pandangan semacam ini dapat dianggap problematis dalam konteks kesetaraan gender di era modern, di mana kepemimpinan dan kekuasaan tidak lagi hanya didominasi oleh perspektif maskulin yang agresif, tetapi juga mengakomodasi nilai-nilai inklusivitas dan keadilan sosial.

Pesan Moral Buku Il Principe (Sang Pangeran)

Machiavelli menegaskan bahwa sifat dasar manusia tidak berubah—keinginan, ambisi, dan kepentingan pribadi selalu menjadi penggerak utama dalam kehidupan sosial dan politik. Dari sejarah, ia belajar bahwa manusia akan selalu berusaha memperoleh kekuasaan dan kemakmuran, sering kali dengan cara apa pun yang diperlukan. Namun, dalam prosesnya, konflik menjadi tak terhindarkan karena setiap individu dan kelompok mengejar kepentingan mereka sendiri. Inilah paradoks kehidupan sosial: manusia bersatu demi kebutuhan, tetapi perpecahan selalu mengintai karena dorongan ego dan kepentingan pribadi.

Dari sudut pandang ini, Sang Pangeran bukan sekadar buku tentang strategi politik, tetapi juga cerminan realitas kehidupan. Ia menantang pembaca untuk memahami bahwa di balik idealisme dan moralitas, dunia dipenuhi dengan pertarungan kepentingan. Pesan moral dari buku ini sangat jelas sekali, memahami sifat manusia adalah kunci bagi siapa pun yang ingin bertahan, baik dalam politik, kepemimpinan, maupun kehidupan sehari-hari.

Nah Grameds, itu dia sinopsis dan ulasan dari buku Il Principe (Sang Pangeran) karya Niccolo Machiavelli. Jangan lupa, kamu bisa menemukan berbagai buku terkait serta koleksi best seller lainnya di Gramedia.com. Sebagai #SahabatTanpaBatas, kami selalu siap menghadirkan informasi dan produk terbaik untukmu! Yuk, sama-sama kita #TumbuhBersama dengan Gramedia.

Penulis: Gabriela Estefania

 

Rekomendasi Buku

Politik

Politik

Bagaimana relasi terbaik antara individu dan negara? Seperti apakah negara yang ideal dan bagaimana ia dapat mewujudkan kehidupan yang paling diinginkan warganya? Pendidikan seperti apa yang harus disediakan? Ini adalah beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab oleh Aristoteles dalam Politik, salah satu karya yang paling menggairahkan secara intelektual.

Dalam buku ini, Aristoteles mengkritik dengan tegas pemikiran politik Plato yang terlampau utopis dalam Republik. Berbeda dengan Plato, idealismenya dikonstruksi bukan dengan latar belakang yang murni atau puitik, melainkan dengan studi yang cermat dan simpatik atas fakta-fakta yang luas.

Good Political Party Governance

Good Political Party Governance

Buku dengan judul “Good Political Party Governance” ini merupakan temuan teori (theoretical findings) dari disertasi penulis, yang menggabungkan fungsi representasi politik dari Bartolini & Mair (2001) serta Szymanek (2015), dan fungsi rekrutmen dari Pippa Norris (2006), dengan fungsi partai politik yang berkaitan dengan tiga indikator good governance dari Ishiyama (2015), meliputi pemerintahan yang efektif, pengendalian korupsi, dan stabilitas politik.

Memakmurkan Otonomi : Kumpulan Pemikiran Djohermansyah Djohan

Memakmurkan Otonomi : Kumpulan Pemikiran Djohermansyah Djohan

Buku Memakmurkan Otonomi merupakan kumpulan opini dan pemikiran Profesor Djo mengenai otonomi daerah yang tersebar di media massa, cetak maupun elektronik, hingga di aneka forum ketika menjadi narasumber, tim ahli, saksi, dan juri di berbagai institusi.

Ada tiga perkara penting yang disorotinya, yaitu pertama, berkah dibukanya ruang otonomi setelah Reformasi. Kedua, timbulnya belakangan ini resentralisasi yang melemahkan otonomi. Ketiga, perlunya membangkitkan kembali spirit otonomi melalui perbaikan regulasi. Harapannya, ke depan tata kelola pemda kita kian efektif dan hubungan pusat-daerah tidak lagi seperti main layang-layang, tarik-ulur, tarik-ulur, tapi betul-betul untuk membuat otonomi makmur.

 

Sumber:

  • https://en.wikipedia.org/wiki/The_Prince
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Niccol%C3%B2_Machiavelli
  • https://www.goodreads.com/book/show/28862.The_Prince

Written by Adila V M

A half-time writer, a full-time dreamer.