Perbedaan Kolonialisme dan Imperialisme—Kolonialisme dan imperialisme merupakan salah satu wujud pemerasan dan penindasan yang dilakukan oleh suatu negara terhadap daerah jajahannya. Tujuan utamanya adalah untuk memenuhi berbagai kebutuhan ekonomi negara dengan cara mengeksploitasi berbagai sumber daya yang ada di negara jajahannya. Hal tersebut menyebabkan penderitaan dan berbagai ketidakpuasan dari negara yang dijajah.

Foto: Tentara Jepang (Tropenmuseum/Public domain in Indonesia)
Wujud kolonialisme dan imperialisme di Indonesia berhubungan erat dengan berbagai negara yang pernah menguasai Indonesia, yaitu Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang. Negara-negara itu berupaya menguasai Indonesia untuk berbagai kepentingan negaranya. Hal tersebut disebabkan Indonesia memiliki sumber daya alam dan manusia yang mencukupi.
Banyaknya negara yang pernah menjajah Indonesia menyebabkan negara ini mengalami berbagai wujud sistem dan kebijakan pemerintahan yang banyak merugikan. Kebijakan tersebut menyebabkan Indonesia mengalami berbagai macam penderitaan, mulai dari kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Inilah yang lantas memunculkan perjuangan untuk bebas dari pengaruh pemerintah asing.
Kolonialisme dan imperialisme di sisi lain sering kali dianggap sama, padahal keduanya berbeda. Ada banyak perbedaan antara kolonialisme dan imperialisme. Perbedaan keduanya dapat dilihat dari waktu kemunculan, tujuan, dan kedaulatan dari kedua sistem itu. Namun, kolonialisme dan imperialisme juga mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama merebut suatu wilayah untuk kepentingan sendiri.
Artikel ini akan menguraikan secara rinci tentang perbedaan kolonialisme dan imperialisme. Jadi, simak pemaparan lengkapnya di bawah ini.
Daftar Isi
Pengertian Kolonialisme dan Imperialisme
Kolonialisme dan imperialisme adalah salah satu sistem yang pernah diterapkan oleh beberapa negara kuat di dunia, khususnya negara-negara Eropa. Kedua sistem tersebut jelas berbeda, meskipun terlihat sama.

Foto: Perang Bali tahun 1906 (Dutch Government/Public domain in the United States)
Kolonialisme merupakan paham mengenai penguasaan yang dilakukan suatu negara terhadap negara lain dengan tujuan memperluas negara tersebut. Istilah ini diambil dari bahasa Latin, yaitu colonus yang berarti “menguasai”. Paham ini mengandung usaha yang dijalankan oleh suatu negara untuk menguasai daerah tertentu yang berada di luar negaranya.
Sementara itu, imperialisme berasal dari bahasa Latin, yaitu imperare atau imperium yang berarti “memerintah”. Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan imperialisme sebagai sistem politik yang memiliki tujuan menjajah negara lain untuk memperoleh keuntungan dan kekuasaan yang lebih besar.
Secara umum, Tjondonegoro (1982) dalam buku Merdeka Tanahku, Merdeka Negeriku memaparkan pengertian dari kolonialisme dan imperialisme sebagai berikut:
1. Kolonialisme
Kolonialisme adalah pengembangan kekuasaan suatu negara terhadap suatu daerah dan penduduknya yang berada di luar batas negaranya.
2. Imperialisme
Impersialisme adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh suatu negara besar untuk memegang kendali pemerintahan daerah lain supaya negara itu semakin berkembang.
Perbedaan Kolonialisme dan Imperialisme
Berikut perbedaan antara kolonialisme dan imperalisme:
1. Sejarah Kemunculannya
Jika ditinjau dari kemunculan dua sistem tersebut, kolonialisme muncul pada abad ke-15 saat Portugis mulai menjalankan misi penjelajahan dengan mendirikan berbagai pos perdagangan di Afrika, yang selanjutnya diikuti oleh Spanyol.
Berbeda halnya dengan kolonialisme, imperialisme sudah ada sejak zaman Yunani dan Romawi yang banyak dipraktikkan oleh berbagai raja yang ingin merebut wilayah lain. Namun demikian, istilah imperialisme baru muncul pada abad ke-19 yang dipopulerkan oleh Perdana Menteri Britania Raya bernama Benjamin Disraeli.
2. Pengertian
Kolonialisme merupakan tindakan fisik yang dilakukan suatu negara untuk membangun koloni dengan negara lain, sedangkan imperialisme merupakan kebijakan yang dikeluarkan suatu negara untuk mengambilalih suatu daerah dengan memakai kekuatan maupun diplomasi.
3. Target dan Sasaran
Target utama dari kolonialisme adalah menguasai bidang perdagangan, sedangkan imperialisme menargetkan menguasai penduduknya.
4. Kekuasaan
Jika dilihat dari segi kekuasaannya, kolonialisme mengambil alih kendali beberapa bidang, terutama ekonomi dan politik, sedangkan imperialisme mengambil alih kendali berbagai bidang secara menyeluruh, baik formal maupun informal.
5. Tujuan Sistem
Sistem yang dijalankan dalam kolonialisme bertujuan untuk mengeksploitasi seluruh sumber daya negara yang dijajahnya. Berbeda dengan kolonialisme, sistem yang digunakan dalam imperialisme membuat suatu kerajaan maupun sistem pemerintahan memperluas daerah kekuasaannya.
6. Kedaulatan
Menurut kedaulatannya, negara yang menerapkan kolonialisme akan menundukkan negara lain, bahkan tinggal secara menetap di negara itu dan menjalankan sistem pemerintahan di negara induknya. Sementara itu, negara yang menerapkan imperialisme akan menjalankan kekuasaan mutlak di wilayah yang dapat dikuasainya dengan memakai mekanisme kedaulatan secara tidak langsung.
Contoh Kolonialisme dan Imperalisme
Grameds, selanjutnya simak beberapa contoh penerapan kolonialisme dan imperialisme yang pernah terjadi di dunia berikut ini:
A. Contoh Kolonialisme
Ada berbagai contoh dari kolonialisme, seperti penjajahan yang terjadi di Australia, India, Aljazair, dan Amerika Utara yang dikuasai oleh negara-negara Eropa. Beberapa contoh dari kolonialisme lain, yaitu:
1. Belanda yang menguasai wilayah Afrika Selatan pada abad ke-17 dan menegaskan kendalinya terhadap berbagai kelompok pribumi. Sampai saat ini, banyak masyarakat Afrika Selatan yang disebut dengan Afrikaners, yaitu keturunan dari pemukim Belanda.
2. Belgia yang mengambil alih Kongo sejak 1908–1960 untuk merampas berbagai sumber daya seperti berlian, emas, tembaga, kromium, platinum, karet, dan gading.
3. Inggris yang mendukung masyarakat Yahudi untuk menjajah Palestina setelah Perang Dunia II, yang mengakibatkan pembentukan Israel pada 1948.
4. Konflik yang terjadi Sri Lanka, yaitu perang saudara di antara Buddha Sinhala dan Hindu Tamil. Masyarakat Sinhala merupakan kelompok mayoritas yang ada dalam pemerintahan dan penduduk, sedangkan masyarakat Tamil merupakan kelompok minoritas yang mendapatkan berbagai penganiayaan dari mereka selama bertahun-tahun.
B. Contoh Imperialisme
Berikut beberapa contoh ketika suatu negara menjalankan kebijakan imperalisme:
1. Amerika Serikat yang membentuk Puerto Rico menjadi negara protektorat setelah Perang Spanyol-Amerika. Hal tersebut menyebabkan Puerto Riko menjadi wilayah Amerika Serikat sejak 1898 dan masyarakatnya menjadi warga negara Amerika Serikat sejak 1917, yang akhirnya menjadi salah satu negara Persemakmuran Amerika Serikat, meskipun dianggap berbeda dengan 50 negara bagian lainnya.
2. Delapan negara adikuasa yang mempunyai hak perdagangan di Tiongkok. Negara-negara tersebut mendirikan kedutaan di Beijing dan memiliki hak ekstrateritorial yang menyebabkan Tiongkok memberontak dan mengusir negara-negara itu.
3. Amerika Serikat yang mengeksploitasi berbagai negara di Amerika Tengah, seperti Honduras, yang akhirnya dikenal sebagai negara-negara yang beroperasi sebagai perusahaan komersial swasta untuk kelas penguasa.
Itulah perbedaan pokok antara kolonialisme dan imperalisme beserta contohnya. Kolonialisme sampai saat ini sering kali dianggap sama dengan imperialisme, padahal keduanya sangat berbeda.
Jenis-jenis Kolonialisme dan Imperialisme
Dikutip dari buku berjudul Kolonialisme Eksploitasi dan Pembangunan yang ditulis oleh Miftakhudin (2019), berikut jenis-jenis kolonialisme dan imperialisme:
A. Jenis-jenis Kolonialisme
Pengetahuan mengenai berbagai jenis kolonialisme dapat memetakan kolonialisme yang pernah terjadi di negara maupun ras tertetu. Kolonialisme dapat dikategorikan menjadi lima jenis, yaitu:
-
Kolonialisme Eksploitasi
Kolonialisme eksploitasi yaitu paham penguasaan suatu wilayah untuk mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM).
-
Kolonialisme Deportasi
Kolonialisme deportasi adalah paham penguasaan suatu wilayah untuk mendeportasi narapidana maupun pelanggar hukum. Beberapa alasannya adalah ancaman bahaya, memberikan efek jera, dan menjaga nama baik negara.
-
Kolonialisme Penduduk
Kolonialisme penduduk adalah paham penguasaan suatu wilayah yang menyebabkan terdesak dan tersingkirkannya suatu kelompok masyarakat pribumi. Praktiknya dijalankan dengan cara migrasi secara besar-besaran ke negeri asing dan membuatnya sebagai tanah air yang baru.
-
Kolonialisme Transmigrasi
Kolonialisme transmigrasi yaitu paham penguasaan suatu wilayah yang diterapkan dengan tujuan menampung kepadatan penduduk yang diakibatkan oleh ledakan demografi.
-
Kolonialisme Sekunder
Kolonialisme sekunder adalah paham penguasaan suatu wilayah yang memandang suatu wilayah tidak menguntungkan bagi negara induknya, tetapi perlu dipertahankan untuk menjaga kepentingan strategis.
B. Jenis-jenis Imperialisme
Sementara imperialisme dapat dikategorikan menjadi empat jenis, yaitu:
-
Imperialisme Politik
Imperialisme politik yaitu paham negara imperialis yang cenderung menguasai politik suatu negara. Mereka memengaruhi pemerintahan untuk menjalankan sesuatu yang menguntungkan.
-
Imperialisme Ekonomi
Imperialisme ekonomi adalah paham negara imperialis yang cenderung menguasai aspek ekonomi suatu negara. Jenis imperialisme ini disukai oleh negara-negara tertentu yang tidak memilih imperialisme politik.
-
Imperialisme Kebudayaan
Imperialisme kebudayaan yaitu paham negara imperialis yang mengingingkan penguasaan de geest and the mind (jiwa) negara lain.
-
Imperialisme Militer
Imperialisme militer yaitu paham imperialis yang menginginkan kedudukan militer suatu negara. Jenis imperialisme ini dijalankan untuk menjamin keselamatan dalam kegiatan ekonomi.
Itulah artikel terkait “Perbedaan Kolonialisme dan Imperialisme” yang dapat kalian gunakan untuk referensi dan bahan bacaan. Jika ada saran, pertanyaan, dan kritik, silakan tulis di kotak komentar bawah ini. Bagikan juga tulisan ini di akun media sosial supaya teman-teman kalian juga bisa mendapatkan manfaat yang sama.
Untuk mendapatkan lebih banyak informasi, Grameds juga bisa membaca buku yang tersedia di Gramedia.com. Sebagai #SahabatTanpaBatas kami selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan dan pengetahuan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca. Semoga bermanfaat!
Rujukan
- Kartodirdjo, S. (1975). Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
- Moedjanto, G. (1988). Indonesia Abad ke-20: Dari Kebangkitan Nasional sampai Linggarjati. Yogyakarta: Kanisius.
- Notosusanto, N. (1964). Hakikat Sejarah dan Metode Sejarah. Bandung: Mega Bookstore dan Pusat Sejarah Angkatan Bersejanta.
- Puspoenegoro, M.D.; Notosusanto, N. (1990). Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.
- Ricklefs, M.C. (2005). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
- Sedana, K.; Magi, K. (2014). Sejarah Indonesia: Dari Proklamasi sampai Orde Reformasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
- Tjondonegoro, P. (1982). Merdeka Tanahku, Merdeka Negeriku. Jakarta: CV. Nugroho.
Rekomendasi Buku dan E-Book Terkait
1. Nusantara Sejarah Indonesia
Nusantara merupakan salah satu deskripsi sejarah Indonesia yang ditulis secara mendalam dan populer. Kendati buku ini terbit pertama pada 1943, banyak hal-hal yang disampaikan oleh Vlekke aktual sampai abad ke-21. Berbeda dengan buku sejarah selebihnya, Vlekke menampilkan proses sejarah Indonesia tanpa terlalu memusatkan proses perluasan kolonialisasi.
Vlekke dalam buku ini misalnya memaparkan bahwa perang agama sangat langka di Jawa dan boleh jadi penyebabnya adalah sinkretisme terpelihara sejak zaman dulu. Ada kisah kegagalan Sultan Agung menyatukan Nusantara karena tak punya angkatan laut yang memadai. Kisah lain yang langka adalah perubahan tabiat orang Belanda yang rajin di tanah airnya (Homo batavus), tetapi jadi pemalas ketika tinggal di Batavia (Homo bataviensis).
Edisi Indonesia buku ini merupakan terjemahan edisi revisi 1963. Penulis menyajikan sejarah Nusantara secara populer. Oleh karena itu, buku ini seolah-olah berisi dongeng Indonesia pada masa silam. Pembaca muda Indonesia dapat dengan mudah memahami kisah yang ditampilkan dalam buku ini.
2. Buku Sejarah Indonesia Kurikulum 2013 Edisi Revisi untuk SMK/MAK Kelas X
Sejarah Indonesia merupakan kajian mengenai berbagai peristiwa yang terkait dengan asal-usul dan perkembangan serta peranan masyarakat dan bangsa Indonesia pada masa lampau untuk menjadi pelajaran dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Tujuan pembelajaran sejarah adalah untuk menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap diri sendiri, masyarakat, dan proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang.
Buku ini disusun dengan memperhatikan Struktur Kurikulum SMK berdasarkan Kurikulum 2013 edisi revisi spektrum PMK 2018 dan jangkauan materi sesuai dengan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar untuk kelompok C3 Kompetensi Keahlian. Buku ini diharapkan memiliki presisi yang baik dalam pembelajaran dan menekankan pada pembentukan aspek penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara utuh. Materi pembelajaran disajikan secara praktis, disertai soal-soal berupa tugas mandiri, tugas kelompok, uji kompetensi, dan penilaian akhir semester gasal dan genap.
3. Serdadu Belanda di Indonesia 1945–1950: Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah
Perang di Indonesia tetap saja membangkitkan emosi yang tinggi generasi berikutnya di Belanda. Situasi tersebut tidak mengherankan. Saat itu, Belanda mengerahkan 220.000 serdadunya untuk suatu perang yang tidak dimenangkan dan yang sesudahnya disebut “salah”. Dalam debat umum tentang operasi militer Belanda yang paling besar, dibahas tentang tindakan kejahatan perang Belanda. Para veteran mendengarkan banyak suara mereka dalam perdebatan ini. Itu masuk akal, mereka ada di sana waktu itu, mereka mengalami realita yang sebenarnya, mereka tahu apa yang dibicarakan.
Buku ini didasarkan atas pelbagai surat, buku harian, buku kenangan, dan memoar mereka. Apa yang terungkap tentang tindak kejahatan perang itu sering kali mengejutkan. Namun, juga menyangkut tema-tema lain: ketegangan antara misi Belanda dan realita di tempat yang sulit dikendalikan; sikap mengerti atau tidak mengerti tentang orang-orang Indonesia dan perjuangan mereka untuk merdeka; frustrasi-frustrasi terhadap pimpinan militer dan politik; ketakutan, rasa dendam dan malu; kebosanan dan seks; merasa asing di tanah Hindia dan juga di rumah sepulang mereka ke negeri Belanda; kemarahan atas tahun-tahun yang hilang dan rasa kurang dihargai.
Dalam buku berjudul Serdadu Belanda di Indonesia 1945–1950, cerita-cerita dari para serdadu ini dikemukakan dalam konteks perang dekolonisasi yang lebih luas dan cara mengatasinya di Belanda.
4. Indonesia Tidak Pernah Dijajah
Setiap tanggal 17 Agustus seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke merayakan hari ulang tahun Indonesia. Namun, tidak semua masyarakat Indonesia mengetahui proses sejarah kemerdekaan Indonesia, yang diketahui hanyalah hasil kemerdekaan yang dinobatkan pada 17 Agustus 1945 saja. Dalam buku Indonesia Tidak Pernah Dijajah yang ditulis oleh Batara R. Hutagalung ini diulas proses di balik kemerdekaan yang diakui oleh bangsa Indonesia selama 72 tahun ini.
Salah satu faktanya Belanda masih tidak mengakui secara de jure kemerdekaan Republik Indonesia (RI) berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945. Belanda hanya menyetujui sepenuh hati “pemindahan kekuasaan” lewat Konferensi Meja Bundar (KMB) penghujung 1949. Menurut Konvensi Montevideo 1933, tidak diperlukan pengakuan formal terhadap sebuah proklamasi kemerdekaan, tetapi ada implikasi yang besar dalam masalah ini.
Dengan tidak mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia, dua kali agresi militer yang dilancarkan Kerajaan Belanda tahun 1947 dan 1948 bagi Belanda hanya dianggap sebagai aksi polisionil. Para pejuang kemerdekaan dianggap penjahat dan kelompok kriminal yang penyelesaiannya merupakan masalah dalam negeri Kerajaan Belanda di daerah koloni Hindia Belanda.
Demikian sedikit ulasan buku Indonesia Tidak Pernah Dijajah. Buku ini hadir untuk memperkuat pemahaman bangsa Indonesia mengenai fakta yang sebenarnya terjadi. Batara menyuarakan secara kritis sejarah bangsa Indonesia dan menghidupkan kembali sukma nasionalisme yang mulai pudar di kalangan anak bangsa dewasa ini. Dia juga membeberkan fakta-fakta sejarah kolonial Belanda di Indonesia yang terkesan didiamkan selama ini.
Tulisan fakta-fakta yang disajikan dalam bab tersendiri mempermudah pembaca dalam memahami fakta sejarah yang disampaikan Batara. Kalimatnya yang sedikit baku membuat pembaca merasa sedang membaca buku pembelajaran. Namun, buku ini sangat dianjurkan kepada khalayak yang ingin mendalami proses dan fakta sejarah mengenai kemerdekaan Indonesia.
5. Islam dalam Arus Sejarah Indonesia
Dalam sejarah Indonesia, tidak diragukan lagi bahwa kehadiran Islam telah memberi sumbangan sangat berarti bagi proses perkembangan masyarakat Indonesia. Salah satu kontribusi yang menonjol adalah Islam meletakkan landasan kukuh bagi satu proses komunikasi dan interaksi sosiokultural di antara berbagai masyarakat di wilayah-wilayah yang tersebar di berbagai pulau. Hal tersebut dikarenakan islamisasi, yang berlangsung sejalan dengan meningkatnya jaringan dagang Asia, telah membuat masyarakat Nusantara terhubungkan satu sama lain, bukan hanya dengan tali agama melainkan juga dengan jaringan bisnis dan diplomasi politik. Pada titik ini, Islam tampil sebagai satu kekuatan pengikat yang menyatukan berbagai kelompok masyarakat yang beragam, yang melampaui perbedaan-perbedaan terkait identitas lokal-primordial.
Buku ini menghadirkan narasi dan analisis sejarah bagaimana perkembangan Islam di Nusantara dan peran pentingnya sebagai penyimpul bangsa yang ada. Bagian pertama dari empat bagian yang ada membahas tentang proses awal islamisasi yang berkaitan dengan perdagangan dan pembentukan kerajaan. Bagian selanjutnya memaparkan perkembangan peradaban Islam di bumi Nusantara yang dilanjutkan dengan bagaimana peradaban Islam Nusantara menghadapi tantangan baru berupa kolonialisme. Dan sebagai penutup adalah paparan tentang awal pergerakan modern Islam di Indonesia. Ditulis dengan deskripsi sejarah yang diperinci, buku ini dapat menjadi referensi penting bagi para mahasiswa dan juga akademisi dalam hal sejarah Islam, khususnya perkembangan dan dinamika Islam Nusantara.
- 6 Negara yang Pernah Menjajah Indonesia
- Dewi Sartika
- Fatmawati
- Contoh Historiografi Kolonial
- Kelebihan dan Kekurangan Orde Lama
- Kelebihan Masa Orde Lama
- Kolonialisme dan Imperialisme: Dampaknya yang Masih Terasa Hingga Kini
- Kongres Pemuda Pertama
- Pahlawan dari Sumatera Barat
- Pahlawan dari Sumatera Utara
- Peninggalan Hindu Budha
- Penyimpangan pada Masa Orde Lama
- Perbedaan BPUPKI dan PPKI
- Perbedaan Kolonialisme dan Imperialisme
- Sejarah Pendudukan Jepang di Hindia Belanda 1942–1945