Gramedia Logo
Product image
Product image
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Jakarta Sebelum Pagi

free shipping logo

Makin Hemat dengan Bebas Biaya Pengiriman Rp0.

Pilih toko Gramedia terdekat dan opsi pengiriman “Ambil di Toko” ketika checkout.

Format Buku
Deskripsi
“Jam tiga dini hari, sweater, dan jalanan yang gelap dan sepi .... Ada peta, petunjuk; dan Jakarta menjadi tempat yang belum pernah kami datangi sebelumnya.” Mawar, hyacinth biru, dan melati. Dibawa balon perak, tiga bunga ini diantar setiap hari ke balkon apartemen Emina. Tanpa pengirim, tanpa pesan; hanya kemungkinan adanya stalker mencurigakan yang tahu alamat tempat tinggalnya. Ketika—tanpa rasa takut—Emina mencoba menelusuri jejak sang stalker, pencariannya mengantarkan dirinya kepada gadis kecil misterius di toko bunga, kamar apartemen sebelah tanpa suara, dan setumpuk surat cinta berisi kisah yang terlewat di hadapan bangunan-bangunan tua Kota Jakarta. Prolog: MESKIPUN ada mayat di dalam lubang kubur, tetap sulit menentukan siapa yang baru saja mati. Nin yang bilang begitu, begitu kami masuk ke dalam mobil. Katanya, orang lewat bisa berpikir kalau kami lupa mengubur satu mayat lagi. Datuk mengeluarkan geraman yang berarti: “Berhenti ngomong, bau.” Dan, Nin, yang sudah terbiasa mengartikan geraman Datuk sejak bayi, menaikkan nada suaranya dan bilang: “Berikutnya dia yang kita kubur!” Sementara Nin sibuk menyumbangkan pendapatnya mengenai luas lubang yang diperlukan untuk mengubur Datuk (“Seluas Samarinda, minimal, untuk perutnya saja! He, Gendut, diet!”), aku memikirkan betapa tepatnya ucapan Nin (bukan soal luas kuburan Datuk). Hari ini, di pemakaman, ada orang yang dikubur, dan ada orang yang mengubur. Tapi, sepertinya, kematian mengambil keduanya—satu orang mati dan satu orang hidup. Bukan salah kematian, kurasa. Kematian hanya mengambil satu dari mereka. Masalahnya, yang ditinggal berusaha mengejar, berharap kematian mau mengembalikan apa yang dia ambil. Tentang Penulis: Tidak seperti yang dikira banyak orang, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie tidak lahir maupun tinggal di Jakarta, tidak biasa mencampur bahasa dalam satu napas, dan tidak punya banyak pengalaman dengan cat rambut, babi, maupun kehidupan di apartemen. Dapat ditemukan di beberapa media sosial, tapi lebih baik dikenali lewat karya-karyanya, termasuk: Semua Ikan di Langit (Grasindo), Pulau Batu di Samudra Buatan (KPG), Mari Pergi Lebih Jauh (KPG), dan lainnya. Jika berpapasan, berikanlah sebungkus kentang goreng
Detail Buku
Product image
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Jakarta Sebelum Pagi