Nungki Kusumastuti
Tari Indonesia dan Sejarahnya

Makin Hemat dengan Bebas Biaya Pengiriman Rp0.
Pilih toko Gramedia terdekat dan opsi pengiriman “Ambil di Toko” ketika checkout.
Format Buku
Deskripsi
Pengetahuan tentang sejarah tari menjadi penting bagi siapa pun yang menekuni dunia seni ini. Buku ini memuat berbagai pengetahuan tentang tari di Indonesia dan sejarahnya dengan alur periodisasi. Bagaimana sebuah tari tradisional bertahan hingga kini dan tetap didukung oleh masyarakat pada masa sekarang hingga masa mendatang. Bagaimana sebuah tarian bisa berkembang menjadi karya baru yang kontemporer sesuai zamannya. Buku ini menyediakan informasi untuk memahami sejarah, maksud, makna, isi, fungsi, dan nilai-nilai simbolis dari sebuah tarian.
Buku Tari Indonesia dan Sejarahnya ditulis oleh Nungki Kusumastuti—seorang aktor, penari, akademisi, dosen—yang telah mengampu mata kuliah Jurusan Tari selama lima belas tahun lebih di salah satu universitas terkemuka di Indonesia.
Profil Penulis:
Siti Nurchaerani Kusumastuti dikenal publik sebagai salah satu penari untuk istana negara. Dari 1985 hingga 2007, perempuan yang akrab dipanggil Nungki Kusumastuti itu rutin mengisi berbagai acara kenegaraan dan penyambutan tamu negara. Ia juga rutin menjadi wajah Indonesia di berbagai forum antarbangsa, sebagai perwakilan negara untuk diplomasi kebudayaan dan misi kesenian ke mancanegara. Jalan menuju gelanggang dunia sejatinya telah Nungki tempuh sejak lama. Sejak kecil, ia berlatih tari tradisional, terutama tari Jawa dan Bali. Ia semakin mendalaminya ketika belajar langsung dari Retno Maruti, dosen tari IKJ yang juga adalah penari dan koreografer terkemuka. Kebetulan, masa kuliah Nungki juga bertepatan dengan Festival dan Pekan Penata Tari Muda, yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta dari 1978 hingga 1987. Kegiatan tersebut lantas memperkenalkan Nungki pada bentukbentuk selain tari tradisional, yang kemudian ia kembangkan lebih lanjut di ruang kuliah bersama dosen serta rekan sejawat. Kegiatan yang sama juga menjadi kesempatan Nungki terlibat pada sejumlah upaya terobosan seni pertunjukan. Ia ambil bagian dalam balet Gunung Agung Meletus (1979) gubahan Farida Oetoyo, teater eksperimental Meta Ekologi (1979) arahan Sardono W. Kusumo yang berlatar di sebuah kubangan lumpur, dan pementasan Awan Bailau (1984) karya Dedy Lutan dan Tom Ibnur yang memadukan tari tradisional Minang dengan gerak tari modern. Awan Bailau pada tahun yang sama lantas dipentaskan kembali oleh Jurusan Tari IKJ di American Dance Festival, Durham.
Baca Selengkapnya
Detail Buku

Nungki Kusumastuti
Tari Indonesia dan Sejarahnya